Apa Itu Naik Haji, Buk?

by Jamilatul Istiqomah, Juni 06, 2024

Apa itu Naik Haji, Buk?

Waktu pelaksanaan haji akan bebarengan dengan rangkaian Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada bulan Dzulhijah. Tepatnya  9 Zulhijah atau malam ke-10 Zulhijah, yaitu malam lebaran Idul Adha.

Bulan ini pun sudah bersliweran bis pengantar haji. Tradisi mengantarkan jemaah haji sampai ke titik pemberangkatan merupakan hal yang sudah tak asing. Orang-orang yang mengantar biasanya sanak family, kerabat, dan tetangga. 

Montoran santai di sore hari untuk membeli kebab, jajanan favorit. Demi jajanan favorit, aku bersama putri semata wayangku, Kiya haruslah keluar dari dusun. 

Montoran agar merasa lebih aman terhindar dari jatuh dan kantuk, ia berbonceng duduk di jok depan sembari memegang kedua spion. Kurang lebih 10 menit dari dusunku keluar melewati jalan raya desa, gerobak kebab berjejer di jalanan raya.

Dalam perjalanan, kami seringkali menemui bis bergambar jemaah haji. Kiya menatap bis tersebut dengan memicingkan matanya. 

Aku pun mengetahui maksudnya "itu bis mengantarkan orang naik haji dek." 

"Banyak ya buk bis nya, dari tadi sliweran." 

Tak lama kemudian bis rombongan pengantar naik haji berlalu lalang.Sambil menunjuk bis yang menyalip kami "buk, lihat ada bis pengantar naik haji lagi."

"Wah iya dek, kamu kok tahu kalau itu bis pengantar orang naik haji?'' tanyaku.

"Kan ada gambarnya orang naik haji buk tadi," jawabnya. 

"Naik haji ke Mekkah kan buk?" 
"Iya dek."

Pernah kudapati ia sedang bermain HP, ketika membuka Youtube terdapat video fyp  tentang naik haji. Jadi, aku tak heran kalau seusianya mengetahui tentang naik haji itu ke Mekkah. 

Setiba di gerobak kebab, sambil menunggu pesanan, aku menceritakan tentang almarhum dan almarhumah buyutnya yang pernah menunaikan ibadah haji. Ia pun mendengarkan dengan seksama. 

Tak terasa, kebab yang kami tunggu sudah siap dibawa pulang. Dalam perjalanan, ia bertanya "buk, naik haji itu naiknya (manjat) setinggi apa? Naik apa? Tingginya seberapa? Segenteng buk? Apa tingginya pol sampai menembus langit?" beberapa pertanyaan terlontar sembari merentangkan tangannya ke arah langit. 

Aku tertawa kecil mendengar pertanyaan polosnya. Selain itu, aku merasa senang sekaligus kagum dengan rasa ingin tahunya. 

Belum sempat aku jawab. Ia melontarkan pertanyaannya kembali. "Buk, di Mekkah berarti ada tangga menuju langit? Capek ya buk, naik tangga untuk naik haji."

"Dek Kiya, naik haji bukan berarti naik (manjat) ya. Naik haji itu adalah salah satu rukun Islam, disamping membaca syahadat, salat, zakat, dan puasa. Haji sesuatu yang sangat penting bagi umat Muslim. Ini adalah perjalanan yang dilakukan ke sebuah kota di Arab....''

"Arab? Mekkah buk, Arab Arab haha buk buk," celanya dengan merasa paling benar.

"Iya dek, maksudnya di  negara Arab yang namanya kota Mekkah. Kayak kita di negara Indonesia tapi tinggalnya kita di Purwodadi dek." 

Ia memanyunkan bibirnya setelah mendengar penjelasanku. Dengan memiringkan kepalanya, tampak berpikir "kenapa harus ke Mekkah, buk? Apa hanya ada tangga menuju langit untuk naik haji? Oh hanya ada di Mekkah ya buk?"

"Hmmmm, ia masih berfikiran bahwa naik haji itu naik (manjat) tangga," gumamku.

"Dek Kiyaaaa, naik haji itu bukan naik (manjat) tangga ke langit, bukaaaan. Naik haji itu di Mekkah karena Mekkah itu tempat yang sangat istimewa bagi umat Islam. Di sana ada Ka'bah, rumah Allah, yang menjadi pusat ibadah kita. Semua orang Muslim yang mampu secara fisik atau sehat dan keuangan diwajibkan untuk pergi ke sana setidaknya sekali seumur hidup.”

“Lah, kalau gak naik (manjat) orang disana ngapain buk?” tanyanya lagi, matanya berbinar penasaran memutar kepalanya menatapku.

“Di sana, kita melakukan serangkaian ibadah yang sudah ditentukan, seperti thawaf, yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali, dan sa’i, berlari-lari kecil antara dua bukit, Safa dan Marwah. Selain itu, ada juga wukuf di Padang Arafah, yang merupakan puncak dari ibadah haji.”
Ia masih terdiam. "Dek Kiya pernah lihat ka'bah kan di HP? Itu loh dek yang berbentuk kubus atau kotak berwarna hitam" 

"Ooooh..." sepertinya ia sedikit paham apa yang aku maksud. 

"Aku, Ibuk, koko (kakek), yayi (nenek), dek Hisna, tete Ulya, om Cam, om Uzi besok  naik haji ya buk seperti Mbah buyutnya dek Kiya yang pernah naik Haji."
 
"Aamiin"

*Agar lebih paham dan punya gambaran tentang naik haji, Kiya aku buatkan Ilustrasi 3D dari kertas dan kardus naik haji