Learn from the Living of Farmer Financial Management



Aku adalah anak petani padi. Bapak menggarap sawah kurang lebih satu hektar. Sawah didapat  dari warisan mbah sebagian ia membeli.  Beliaupun juga mempunya sapi dan ayam jika ada kebutuhan mendesak ia akan menjualnya atau kadang bisa digunakan untuk lauk. Ya itulah aset yang dimiliki seorang petani. Merawat asetnya bisa  dari rumput halaman rumah, daun pisang, jerami padi setelah panen, minumannya dari bekatul dari padi yang diselep (sleep adalah alat yang digunakan untuk mengolah padi menjadi beras). 

Kata Bapak, petani itu kayak pengusaha properti tapi tidak berhak menentukan harga jual rumahnya. Petani itu juga bagai pengusaha, tapi pengusaha yang tidak bisa membuat anggaran untung dan rugi sejak awal. Bayangkan, betapa tinggi resikonya sebagai petani bukan? 

Menanam dulu baru jual begitulah paradigmanya seorang petani. Menanam, merawat selama kurang lebih tiga bulan baru memanen. Petani mempunyai uang banyak jika musim panen, kadang toh petani sering juga menghadapi gagal panen. Setelah panen, uang panen nya pastilah digunakan untuk modal menanam lagi, membayar tenaga traktor, buruh, membeli benih dll. Tahapan sebelum memanem harus dilalui mulai dari mengolah tanah hingga pemupukan. Bapak pasti bilang, urea itu mahal sekali, jadi tidak mungkin petani boros pupuk. Jika belum menghijau, harus dipupuk. Jika kurus kalau dibiarkan saja, tidak akan panen. Belum lagi jika hama datang seperti wereng, salang, tikus harus disemprot obat. Semua Hama harus mati agar tidak gagal panen. Biaya kemudian membengkak tidak terprediksi untuk mengusir hama ataupun menggemukkan padi. Kadang malah Bapak juga sering kebanyakan pupuk niat agar gemuk eh malah gak mau tumbuh yang tumbuh lebat daun & batangnya saja. Coba bayangin betapa nestapanya seorang petani, menunggu panen selama tiga bulan, punya pengeluaran untuk kehidupan sehari-hari serta pengeluaran untuk merawat sawahpun banyak, bagaimana mereka bisa menghidupi keluarganya? Lalu, bagaimana Bapak bisa membiayai kuliahku di sebuah perguruan tinggi negeri Surakarta, menyekolahkan kedua adikku di sekolahan dan pesantren di Kota, serta  menghidupi keluarganya. Aku dan kedua adikku terapaut tiga tahun jadi bisa dibayangkan bukan gimana rasanya punggung bapakku menanggung pengeluaran biaya sekolah dll untuk anak dan istrinya, bahkan membangunkan rumah untuk anak-anaknya, mampu membeli sapi dan membeli sawah?

Dari mana usaha Bapak ini menghasilkan keuntungan? Pertama, keuntungan itu merupakan keringat Bapak merawat asetnya, menyemprot hama, menanam padi, memupuk sawah,  mengairi sawah dll. Jika merugi seperti kebanyakan memupuk yang aku ceritakan tadi Bapak bisa dibilang sebagai buruh bagi usahanya sendiri yang tidak dibayar. Kedua, keuntungan itu adalah keringat Bapak yang bekerja 24 jam. Bapak berangkat ke sawah pukul 5 pagi selepas shubuh. Pulang pukul 12 untuk makan siang, membuang kotoran sapi, istirahat, sholat, merawat sapi, kemudian pukul 3 setelah sholat ashar  kembali ke sawah hingga menjelang maghrib. Hampir 12 jam. Eits, itipun belum selesai. Di malam hari, Bapak juga memberi makan sapi & seringkali harus pergi ke sawah memastikan garapannya terisi air atau tidak. Ketiga, mempunyai stock kebutuhan pokok seperti beras milik sendiri Bapak kadang menyisakan satu tempat sawah untuk tidak menjual padinya alias menyimpan padi dirumah untuk dimakan. Memang sawah Bapak ditanami padi, tapi beliau juga menyisakan sedikit petakan untuk menanam sayuran seperti kacang, strong, tomat, cabai,  batam, ubi jalar, dan pohong semua sayuran ini untuk menghemat pengeluaran dapur, nah pengeluaran untuk belanja dapur bisa diambil di sawah. Apakah cukup persedian sayur mayor dibawah selama menunggu panen? Oh iya selain di sawah, disamping seklililing rumah ibuku menamam juga seperti daun ubi jalar, batam, cabai, strong Dan pisamg. Banyak kan? Pasti sayur mayur kalau dipetik itu pasti akan tumbuh kembali cukup perawatan disiram dan diberi pupuk kandang yang dimiliki.

Uang dari hasil panen dipos-pos kan Bapak, untuk modal menanam padi, pos biaya kehidupan sehari-hari seperti belanja kebutuhan, iuran, tagihan, yang sekolah dan ketiga pos ditabung. Pos pertama beliau melakukan penghematan dgn tidak membayar buruh alias semuanya dikerjakan sendiri hanya membutuhkan beli benih, pupuk, obat semprot hama cukup pengeluaran 40%. Pos kedua itu pasti tetap melakukan pengeluaran ya, jadi harus diberikan sebanyak 50%. Pos ketiga tabungan diberikan sebentar 10% yah memang sedikit demi sedikit namun cukup juga untuk membuat rumah, membeli sapi dan sawah. Ketika panen harus mengusahakan membeli anak sapi jika hasil pakenya sedikit lalu dirawat kemudian kalau sudah besar bisa dijual untuk membeli sawah agar bisa ditanami dan dipanen lagi. Ketika ada kebutuhan sehari-hari kadang menjual beberapa dari banyaknya ayam atau manjual buah pisang di pasar.

Selama menunggu panen, Bapak mengajarkan kita untuk melakukan penghematan dan menerapkan sikap bersyukur menerima apa adanya. Banyak sayur mayor yang dipilih bukan? Jadi makananan bisa silih berganti, jika ingin makan ayam tinggal sembelih ayam ataupun ingin telur juga ambil sebagian, jangan semua nanti malah si ayam gak bisa menemukan generasinya ya hehhe. 

Intinya manfaatkan atau gunakan yang tersedia disekitar kita.

Alangkah indahnya Jika hidup kita selalu bersyukur bukan?. Nah, setelah membaca kisah kehidupan petani dalam mengelola keuangan yang gajinya itu selama tiga bulan sekali itupun gajinya tidak menentu. Apa sih pelajaran yang bisa kita ambil ? 

Pelajaran dari pengelolaan petani yang gajinya tiga bulan sekali dengan gaji yang tidak menentu. First, Kita hidup itu butuh bekerja keras kalau pak petani memeras keringatnya seharian pasti akan ada hasilnya, atau usaha tak akan pernah membohongi hasil. Ingat kita harus bekerja keras dengan sungguh-sungguh jangan setengah-setengah agar panen tidak gagal tentunya juga dengan takaran yang pas kalau sampai kelewat batas malah salah sasaran seperti Bapak memupuk kebanyakan niat biar gemuk pastinya eh malah gemuk batangnya, daun lebat. Kalau kita juga bekerja keras juga ingat kemampuan kita jangan sampai kita jatuh sakit ya. 

Second, mempunyai bakal kebutuhan pokok sendiri seperti beras, sayur mayur kalau bisa ditanam ya ditanam agar kita bisa menikmatinya tidak harus mengeluarkan uang. Kalau di kota gak ada tanah atau sudah diaspal kitabjuga bisa menanamnya di pot, atau membuat sedikit kebun dibelakang rumah. 

Third, memanfaatkan yang ada dan menerimanya. Seperti masak sayur mayur sekitar rumah ataupun disawah dan kita juga harus menerima keadaan serta mensyukurinya apa-apa  yang telah diberikan Allah kepada kita. Dengan sikap tsb pasti kita kan merasa cukup.

Fourth,melakukan pengeposan hasil panen/ gaji secara gaji kita juga harus diwujudkan aset ataupun investasi. Investasi adalah satu cara yang dapat menyelamatkan aset dari ancaman inflasi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan return yang baik dibandingkan hanya sekedar menabung. Kalau Bapak membeli sapi lalu beranank kemudian induknya dijual direturn dengan sawah nah anak sapi dirawat kemudian punya anak, dijual lagi dan anak sapi dirawat lagi dan seterusnya. Kalau kita mungkin juga bisa berinvestasi di emas ya misalnya. 

Five, selalu melakukan penghematan, bahwa kita tidak tahu ujian akan menghampiri. Seperti Bapak yang gagal panen dan tidak memiliki pemasukan sama sekali. Karena kita hemat, maka pengeluaranpun tak banyak jadi bisa buat kebutuhan lainnya. Seperti ujian pandemi ini, ia datang tiba-tiba tanpa permisi dan mengabari lewat telpon terlebih dahulu bukan? Nah, ujian bisa datang tiba-tiba maka dari itu kalau kita tidak melakukan penghematan, selalu melakukan pengeluaran  terus menerus alias boros dan hanya Memiliki saldo nol. Gimana selanjutnya kehidupan kita? Hutang? Oh Big NO!!! Jangan ambil hutang dalam situasi seperti ini, pekerjaan tersendat takutnya kita gak bisa bayar cicilannya makah jadi numpuk hutang deh. 

Sekarang kehidupanku sudah bukan  tanggungannya Bapak, melainkan kehidupanku sudah dipercayakna kepada suami. Dan aku sudah mempunyai tanggungan sendiri yaitu satu anak. Bisa dibilang aku sekarang adalah seorang Ibu. Ya aku setelah lulus menempuh pendidikan di perguruan tinggi Surakarta aku langsung menikah dan Alhamdulillah aku segera dikaruniai buah hati yang melengkapi keluarga kecil kita. Aku belum diijinkan suami untuk bekerja karena masa kecil anak tak bisa kembali jadi aku sepenuhnya harus dirumah untuk memaksimalkan tumbuh kembang anakku, Azkiya. Jadi management keuanganku sedikit banyaknya juga aku atur seperti management bapakku sebagai petani. Gajiku belum ku dapat dari hasil panen melainkan dari suamiku bekerja. Alhamdulillah setelah kuterapkan pelajaran management keuangan petani seperti apa yang aku sebutkan diatas, aku dan sumai  mampu membeli aset-aset yang memenuhi kebutuhan rumah tangga dll. Karena Azkiya masih kecil dan belum butuh pengeluaran yang begitu banyaknya sekarang kami ingin mempunyai sedikit tabungan sebuah investasi emas, kurang sedikit lagi kami akan mempunyainya, Alhamdulillah. 

Meskipun aku belum diijini suami bekerja. Aku harus putar otak gimana nih aku jadi ibu yang merawat anak di rumah sambil bisa menghasilkan uang dengan memanfaatkan yang ada. Aku kalau mau usaha dari masak pasti ribet soalnya Azkiya masih kecil jadi ia butuh pengawasan penuh. Lalu aku menemukan solusi dari gadget nih Ibu-ibu, apa yang bisa aku gunain gadgetku buat menghasilkan uang dengan mudah dan gak ribet. Aku bisa gunainnya dengan jadi droppshipper, jualin barang orang tanpa pengepakan dan modal tentunya, modalnya cuma gadget & internet saja. Selain itu, aku gunain media sosialku terutama Instagram dengan cara ikut partisipasi campaign dengan bayaran yang belum banyak sih tapi setidaknya ada pemasukanlah. Ikut pasrtisipasi juga dalam kontes photo anak dan ibu, Alhamdulillah kami bisa menjadi first winner loh lumayan hadiahnya Rp. 500.000,- pernah juga memenangkan kontes video hadiahnya Rp. 250.00,- ikut ajang menulis diary moms juga memenangkan sebuah paket yang bisa mengurangi uang jajan hehe meskipun masih dibilang cuan tapi bisa disyukuri bukan? Daripada melamun & menganggur di rumah, kita bisa menggunakan gadget kita untuk menghasilkan uang sambil momong. 

Begitulah ada lima  pelajaran yang bisa kota ambil dari petani yang gajinya tiga bulan sekali dengan gaji yang tidak menentu serta resiko tidak mendpatkan gaji  dengan memanfaatkan hal-hal yang tersedia disekitar kita. Semoga bermanfaat.

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar